Bendera dan Gerakan Islam
- Genius Media
- Nov 3, 2018
- 3 min read
Penulis : M. Dzauhar Azani
Editor : Tina S.M.

Insiden pembakaran bendera tauhid dalam perayaan Hari Santri Nasional di Garut pada 22 Oktober 2018 menjadi titik klimaks dari polemic pengibaran yang seringkali didentikan dengan golongan Islam Garis Keras. Bagaimana tidak, gen? Menurut sebagian publik di negeri ini bendera tersebut digunakan sebagai bagian dari logo organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dituding ingin mengganti kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dengan Khilafah.
Sementara di sisi lain mereka berpendapat bahwa hakikatnya bendera tersebut adalah simbolisasi perjuangan Islam, yang tidak bias diidentikan secara general terhadap satu gerakan, lalu bentuk kepedulian mereka dituangkan minimal dengan mengunggah kalimat tauhid bewarna putih dengan latar belakang berwarna hitam di media sosial, hingga kemurkaan terhadap pihak pembakaran.
Peristiwa yang telah viral sejagad nasional ini seakan membuat pikiran kita bertanya-tanya, apakah akan terjadi konflik horizontal lebih jauh antar pemeluk agama mayoritas di Indonesia? Ataukah malah digunakan sebagai usaha untuk menjatuhkan salah satu kubu oleh kubu lain mendekati pemilu 2019? Tentunya kasus ini perlu diselidiki secara mendalam oleh pihak yang berwajib hingga tuntas juga tetap menjaga keutuhan umat beragama, khususnya pemeluk Islam di Indonesia yang terdiri atas beberapa golongan.
Meski demikian pengibaran bendera sebagai aksesoris dalam setiap gerakan sosial seperti demonstrasi memang hal lumrah yang dapat dikatakan sebagai suatu sosialisasi secara tidak langsung berkaitan dengan jalan ideologis dari subjeknya yaitu si pengibar kepada publik yang kebetulan menyaksikan. Seperti dalam kasus ini salah seorang demonstran bernama Uus membawakan bendera tauhid dan dengan berani mengibarkannya karena memang sebelum pembubaran HTI ia merupakan salah satu pengikutnya. Ia mengaku memiliki kebanggaan yang bisa jadi ialah menunjukan bahwa eksistensi ideologi khilafahnya masih ada dan ia percaya hal itu sebagai jalan hidupnya.
Selain Bendera Tauhid berwarna monokrom (hitam-putih) yang penggunaanya telah ada sejak zaman Khulafau Rasyidin yang kemudian juga digunakan oleh organisasi bersenjata berlandaskan Islam seperti Taliban yang sampai saat ini tergolong gerakan teroris, ternyata ada bendera lainnya juga lho. Bendera-bendera tersebut sering menjadi pengiring dan aksesoris dalam setiap gerakan-gerakan yang dimotori oleh organisasi Islam di Indonesia.
Seperti BenderaTurki yang notabene disebut juga Bendera Bulan dan Bintang, ialah pengembangan dari logo diperkirakan telah ada pada zaman Peradaban Sumeria Kuno sekitar abad 12 SM untuk merepresentasikan dewa –dewa mereka. Hal tersebut diungkapkan oleh yang Michael R Molnar dalam bukunya Star of Bethlehem. Lambang yang awalnya tertera dalam artefak-artefak seperti koin dan relief kemudian berkembang menjadi bendera negara pada masa Kesultanan Turki Ottoman dibawah Sultan Mustafa III (1757-1774). Hal tersebut terus berkembang hingga sistem negara tersebut berubah menjadi Republik di bawah pimpinan Mustafa Kemal Attaturk pada 1923. Sejak saat itu lambing Bulan dan Bintang diangap mepresentasikan negara ataupun organisasi yang komposisinya diisi oleh para pemeluk beragama Islam.
Di Indonesia bendera ini pernah digunakan sebagai lambing dari Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada masa pendudukan Jepang, karena penggagas dan mayoritas anggota nya adalah pemeluk Islam, meskipun bendera tersebuy dibubuhi simbol Jepang lewat bentuk matahari terbit. Selain itu, bendera ini digunakan sebagai simbol partai politik seperti Masyumi, Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) dan hingga saat ini simbol ini digunakan oleh Partai Bulan Bintang.
Bendera lainnya ialah bendera negara Palestina yang sebenarnya merupakan perbaikan dari bendera Revolusi Arab yang pernah pecah pada 1916-1918. Gerakan tersebut dilatarbelakangi oleh kepentingan golongan politik Arab di bawah Pangeran Husein bin Ali lewat dukungan sekutu untuk melepaskan hegemoni Turki di Timur Tengah saat itu, menggunakan bendera tersebut sebagai representasi bersatunya daerah bekas dinasti Islam seperti Abbasiyah (Hitam), Umayyah (Putih), dan Fatimiyyah (Hijau) dalam kekuasaan dinasti baru yaitu Hassimiyah (Merah).
Setelah berakhirnya revolusi, cita-cita bersatunya wilayah-wilayah tersebut tidak rampung tercapai akibat kepentingan negara-negara sekutu saat itu, sehingga hanya beberapa wilayah seperti Yordania, Iraq, dan sebagian Arab Saudi saja yang bersatu. Adapun pola peletakan warna pada bendera tersebut dimodifikasi, lalu digunakan sebagai simbol Partai Sosialis Arab (Baath) yang didirikan pada 7 April 1947 guna mewujudakan Pan-Arabisme seperti Revolusi Arab dengan menggulingkan pemerintahan Monarki yang pro-Barat. Partai tersebut kemudian pecah dan bubar pada 23 Februari 1966, tetapi benderanya masih digunakan sebagai lambang perjuangan Organisasi Pembebasan Palestina atau Palestine Liberation Organization (PLO). Bendera tersebut juga masih kekal digunakan pemerintahan Palestina hingga saat ini.
Oke deh gen! Sekarang sudah tau kan makna beberapa bendera yang bahkan masih digunakan hingga hari ini. Jangan lupa untuk tetap mencari tau maksud dan makna dari bendera lainnya yang mungkin sering kali rekan-rekan pajang atau kibarkan, agar nantinya tidak terjadi insiden yang berbuah polemik nasional seperti di Garut kemarin ya…
Comments