top of page

Masih Adanya Polemik Pasca Rekonsiliasi

Oleh: M. Dzauhar

Editor: M. Dzauhar

Prabowo Subianto dan Joko Widodo Melambai ke Arah Jurnalis di Stasiun MRT Tatkala Rekonsiliasi Berlangsung (Sumber: Merdeka.com)

"Kami PA 212 serta alumnus dan simpatisan 212 tidak tunduk apalagi patuh kepada Kertanegara. Kami hanya tunduk kepada imam besar Rizieq Shihab yang saat ini berada di kota suci Mekkah,"


Berikut pernyataan Damai Hari Lubis Kepala Divisi Hukum Persaudaraan Alumni (PA) 212 dilansir dari CNN Indonesia, pasca bertemunya Prabowo Subianto yang didukung oleh PA 212 dengan presiden terpilih Joko Widodo Sabtu (13/7) kemarin.


Bersamaan dengan PA 212, pendukung Prabowo lainnya secara individu lewat media sosial juga banyak menanggapi pertemuan tersebut. Dari yang menyatakan pasrah seraya mekalumi tindakan Mantan Danjen Kopassus tersebut, hingga kecaman serta cacian sambil menyematkan tagar #Tetap Oposisi.


Ditinggalkannya Prabowo oleh PA 212 yang menurut penulis saat laga pilpres 2019 adalah sumber massa paling militan serta pendukung-pendukung setianya adalah masalah baru dalam proses rekonsiliasi.


Sebelumnya masalah yang cukup menghangat untuk dapat tercapainya proses rekonsiliasi, adalah pemenuhan syarat berupa pemulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab ke Indonesia.


Selain masalah baru, ditinggalkannya Prabowo oleh para pendukungnya merupakan ujung daripada perbedaan persepsi antara Prabowo dengan pendukungnya yang mana telah muncul sejak Prabowo memutuskan mencalonkan diri sebagai Presiden RI pada Pilpres 2019.


Menurut pantauan penulis perbedaan persepsi dimulai ketika pemilihan Calon Wakil Presiden (Wapres) untuk menemani Prabowo guna berlaga di Pilpres 2019. Masing-masing elemen politik pendukung Prabowo mengajukan figur andalannya, terutama GNPF Ulama yang didukung oleh PKS saat itu lewat Ijtima Ulama I pada 29 Juli 2018 mengusulkan agar figur seperti Salim Segaf Al Jufri dan Ustadz Abdul Somad menjadi Calon Wapres pendamping Prabowo.


Nyatanya pada 9 Agustus 2018, Prabowo mengumumkan Wakil Gubernur DKI saat itu Sandiaga Uno yang sebelumnya adalah kader Gerindra lalu memutuskan menjadi Independen sebagai Cawapresnya. Setelah itu muncul tudingan bahwa Prabowo dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dibandingkan politis.

Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno Saat Pengumuman Calon Wakil Presiden (Sumber: Kumparan)

Kemudian perbedaan persepsi kembali muncul, tatkala wacana pemindahan Kedutaan Besar (Kedubes) Australia untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. Dilansir dari Detik, Prabowo secara resmi pada kegiatan Indonesia Economic Forum 21 November 2018 lalu, menghormati keputusan Australia jikalau hendak melakukan tindakan tersebut sebagai wujud menghormati kedaulatan Negeri Kangguru tersebut.


Padahal beberapa elemen pendukungnya terutama PA 212 berisi para tokoh FPI yang jelas-jelas membela kemerdekaan penuh Palestina menolak tindakan tersebut, karena dinilai mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.


Terakhir, perbedaan persepsi muncul kembali ketika pendukung Prabowo memutuskan berdemonstrasi ketika sidang sengketa Pilpres tengah berlangsung di MK, meskipun sebelumnya Prabowo menyatakan untuk tidak melakukan kegiatan tersebut dan meminta pendukungnya tetap tenang seraya mengawasi. Menariknya mereka mulai menyatakan secara jelas lebih ingin mendengar komando dari Rizieq Shihab, dibandingkan himbauan dari Prabowo.


Meskipun menjadi polemik baru, tensi rivalitas antara Jokowi dan Prabowo mulai memasuki babak akhir. Kini menjadi tugas masing-masing figur dan tokoh-tokoh di dekatnya untuk dapat menghimbau seraya merangkul untuk sama-sama mengakhiri perseteruan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

コメント


© 2020 oleh Genius.id

Member of Idea Publika Group

bottom of page