top of page

Bangsawan turun ke "Kauman"



Ilustrasi Bangsawan Keraton (Oleh: Jojo)

Bila melihat baik dari sisi budaya dan historis, golongan priyayi ialah suatu konstruksi sosial yang secara sengaja telah diatur oleh pihak kolonial guna melangsungkan kekuasaannya di nusantara. Konstruksi tersebut tentu menggunakan beberapa alasan dari mulai pertalian darah hingga kualitas diri yang dimiliki oleh seseorang tersebut. Sehingga Kolonialisme ini tidak hanya berjalan lewat tangan para pejabat Eropa saja, tetapi juga lewat bantuan para bangsawan ini pula terutama sebagai media penyaluran kebijakan pemerintah Hindia Belanda saat itu.


Tetapi bukan berarti fakta tersebut sekan menjadi generalisasi bahwa hamper seluruh bangsawan dan keturunannysejalur dengan paradigm kolonialis. Beberapa dari mereka yang mendapat peluang untuk mengenyam Pendidikan Barat, justru menjadi lawan terhadap sistem yang eksploitatif tersebut dan menjadi tokoh-tokoh berjasa bergelar pahlawan nasional setelah Indonesia merdeka. Meskipun tidak semua mendapt nasib tersebut hingga akhir hidupnya.


Seperti Raden Mas Soeripto Tjondro Saputro dan istrinya Raden Ayu Lastri Suryati yang keduanya merupakan keturunan bangsawan atau priyayi Kesunanan Pakubuwono di Solo serta Kesultanan Yogyakarta. Mereka berdua sedari mengenyam Pendidikan Barat pada Masa Hindia Belanda, mendapatkan inspirasi dari Teori Marxisme akan tertindasnya kaum proletar oleh kaum borjuis.


Melihat ketika itu kemiskinan merajalela akibat sistem kolonialisme lalu ditambah oleh Krisis Malaise pada 1929, mereka rela dengan gelar serta status mereka sebagai keturunan bangsawan untuk menyisihkan pendapatan mereka memberi makan para kaum tertindas tersebut. Kebiasaan mereka ini terus berlangsung hingga pada 1950 mereka memiliki dan mengoperasikan 5 pabrik untuk menyerap tenaga kerja di sekitar Semarang dan Surakarta yang mana Indonesia baru saja melalui Revolusi Kemerdekaan.


Selain sebagai pengusaha, mereka juga aktif di organisasi politik yang tidak pernah bisa terkira bila melihat profesinya yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI). Selain bergabung sebagai anggota, mereka juga aktif dalam kegiatan partai yang setidaknya sejalan dengan keinginan mereka untuk membantu kaum yang tertindas. Kondisi tersebut kemudian berakhir ketika meletusnya Gerakan 30 September 1965, PKI dituduh sebagai dalang utama terjadinya peristiwa tersebut, sehingga Jenderal Soeharto lewat Supersemar yang keberadaanya masih dipertanyakan melakukan operasi pembersihan kepada seluruh anggotanya meskipun tidak terlibat atau tidak tahu menahu akan terjadinya gerakan tersebut.


Pasangan suami istri beserta anak mereka yang berjumlah 5 orang bersaudara ini melarikan diri dari tempat mereka di Surakarta ke Ibukota Jakarta dengan hidup berpindah-pindah guna menghindari kejaran operasi tersebut, sementara harta dan aset mereka lalu diambil alih oleh negara. Tanpa kepunyaan tersebut mereka rela memanfaatkan daging kucing, tikus, dan anjing untuk bertahan hidup selagi dikucilkan layaknya sebuah najis oleh masyarakat di lingkungan tempat mereka tinggal.


Meski begitu dari keluarga ini tumbuh seorang dokter yang karirnya saat ini tengah menjabat sebagai pengurus dalam salah satu partai pendukung pemerintah saat ini. Selain itu sosoknya cukup mengundang polemik publik akan buku yang ditulisnya mengenai kisah keluarganya tersebut.


Kisan mereka berdua ialah satu dari sekian nasib mereka yang tertuduh terlibat daripada noda hitam dalam historisme bangsa ini, dan mereka yang mungkin telah rela mengorbankan ke-materian serta gelar ascribed demi kepentingan rakyat, meskipun tanpa pamrih sepeser pun bahkan dilupakan atau tidak diakui eksistensinya.


Berbeda dengan Ho Chi Minh yang menanggalkan statusnya sebagai golongan bangsawan yang kemudian berjuang demi rakyat hingga mencapai kemerdekaan serta kemandirian negaranya, perjuangan mereka berdua sampai saat ini tertutupi oleh stigma dan dogma yang telah ditanam oleh pemerintahan totaliter di negeri ini.

 

Penulis: Febi Ramdani S

Comments


© 2020 oleh Genius.id

Member of Idea Publika Group

bottom of page